Interview ‘Tabula Rasa’

Kehadiran film ‘TABULA RASA’ seperti angin segar di dunia perfilman Indonesia. Drama keluarga ini menggambarkan tradisi masakan Minang dan filsafat di pusatnya. Sungguh unik mengingat jarangnya film yang berfokus di dunia kuliner Indonesia. ‘Tabula Rasa’ dibintangi aktor veteran Dewi Irawan dan Yayu Unru, serta rekan-rekan mereka yang lebih muda, Ozzol Ramdan dan Jimmy Kobogau. Jimmy juga membuat debutnya sebagai karakter utama dalam film. ‘Tabula Rasa’ merupakan film full-length pertama sutradara Adriyanto Dewo, dengan skenario asli oleh Tumpal Tampubulon dan Sheila Timothy sebagai produser.

tabula01
MI BURUNG DARA mendapat kesempatan untuk berbincang dengan DEWI IRAWAN tentang pengalamannya selama pembuatan film ini. Berikut ringkasan exclusive interview kami:

Ibu Dewi dari keluarga yang aktif dalam dunia perfilman Indonesia. Bagaimana ceritanya?
Saya boleh dibilang lahir di depan kamera. Almarhum ayah saya Bambang Irawan adalah aktor, sutradara dan film producer. Ibu saya Ade Irawan dan adik saya Ria Irawan juga aktor.

Peran Ibu Dewi sebagai Mak di ‘Tabula Rasa’ dihargai oleh Piala Citra di FFI 2014 sebagai Pemeran Utama Wanita terbaik. Apa yang membuat Ibu Dewi tertarik untuk memperankan tokoh Mak yang dari suku Minang?
Waktu ditawarin peran ini saya senang sekali karena ceritanya tidak berlebihan, dan juga susah mendapatkan peran utama yang menarik untuk artis diatas umur 50 tahun. Awalnya saya mendengar kalau karakter ini akan diperankan Christine Hakim, dan waktu itu saya sudah merasa itu peran yang bagus. Ternyata Mbak Christine sedang sibuk syuting film lain sehingga peran tersebut akhirnya jatuh ke saya. Ini adalah film panjang pertama yang dibuat oleh Adriyanto Dewo. Dia mempercayakan peran utama ke saya, dan saya bertekat akan bermain sebaik mungkin sehingga dia bisa dibilang sebagai sutradara yang bagus.

Tabula Rasa Pasar
Bagaimana persiapan sebelum syuting film ‘Tabula Rasa’?
Persiapan filmnya benar-benar bagus karena ada reading bersama, ada acting coach, ada workshop latihan masak, dialect coach untuk bahasa Minang.Chemistry antara empat aktor juga sangat kuat, karena memang kita mainnya cuma berempat. Yang pemeran utamanya orang Papua pertama kali main film. Menurut saya ini film yang bagus karena semua aktor mainnya bagus dengan porsi masing-masing, tidak ada salah satu yang dominan. Semua aktor sama-sama berperan sesuai karakter masing-masing, pas sekali. Itu tandanya yangdirect juga benar, terus kita yang main juga benar. Jadi interpretasi kita sejalan.

Bagaimana persiapan utuk adegan masak-memasak yang merupakan fokus penting film ini? Apakah sebelumnya Ibu Dewi memang sering memasak?
Saya sangat senang mendapat peran ini karena keluarga Ibu saya masih memiliki keturunan Minang, jadi saya merasa ada koneksi dengan film ini. Dulu sebelum saya menikah waktu Lebaran ibu saya pasti memasak rendang, dan biasanya saya kebagian tugas ngulek bumbu atau marut kelapa. Kesempatan membuat film ini seperti harta karun bagi saya, karena selain peran yang memuaskan dan dapat melakukan peran dengan baik tapi juga mendapat ilmu untuk memasak. Saya juga belajar trik-trik dari food advisor, seperti waktu adegan ngulek cabe supaya tidak pedas tangan saya dilumuri minyak mentah.

Apa arti judul ‘Tabula Rasa’?
Waktu syuting saya sendiri juga bertanya arti kata ‘tabula’. Kebetulan waktu itu suami dan mertua saya sedang di Indonesia. Mertua saya bilang ‘Tabula Rasa’ bagus sekali artinya, karena ‘tabula’ berarti ‘meja’ dalam bahasa Latin. Jadi ‘Tabula Rasa’ bagi saya bisa diartikan sebagai ikatan kekeluargaan yang terjadi sewaktu bersantap bersama di meja makan.

Apa pesan moral dari film ini?
Karakter Mak adalah orang Minang dan Muslim. Di salah satu adegan pertama Mak menemukan Hans yang orang Papua tergeletak ditengah jalan yang dilewati untuk ke pasar. Hans yang pingsan, bajunya compang-camping dan kepalanya luka dibawa Mak pulang rumah. Anak buahnya protes, kenapa dibawa pulang? Bagaimana kalau dia punya niat jahat? Ini menunjukkan bahwa Mak itu menolong orang tanpa peduli orang itu siapa, karena orang itu luka. Ada satu adegan pesanan catering, si Hans bilang Alhamdulillah dan saya spontan bilang, “Kamu seharusnya bilang puji Tuhan,” karena memang dia kan orang Kristen. Saat saya menonton film itu dengan Pak Jusuf Kalla, Pak Ahok dan pejabat-pejabat balai kota, Pak Ahok senang sekali. Katanya enak kalau di film yang satu bilang Alhamdulillah yang satu bilang puji Tuhan, coba saja kalau di politik. Saya senang aspek keragaman dan kemajemukan, dan interaksi antar agama dan suku di film ini. Karena kehidupan di Indonesia ini kebhinnekaannya benar-benar kelihatan.

Tabula Rasa Dapur
Bagaimana reaksi penonton, terutama yang diluar negeri?
Film ini sudah keliling dunia, sempat diputar di Cannes dan diapresiasi di Milan. Banyak juga yang menonton di Festival Film Indonesia di Melbourne.

Penghargaan apa saja yang sudah didapatkan film ini?
Film ini mendapatkan empat Piala Citra FFI 2014 untuk Sutradara Terbaik (Adriyanto Dewo), Pemeran Utama Wanita Terbaik (Dewi Irawan), Pemeran Pendukung Pria Terbaik (Yayu Unru)dan Penulis Skenario Asli Terbaik (Tumpal Tampubulon).

Demikian interview Mi Burung Dara dengan Dewi Irawan.

trdvdpop
‘Tabula Rasa’ dirilis di bioskop pada tahun 2014 lalu dan baru saja dirilis dalam bentuk DVD dan DVD Special Edition pada bulan Agustus 2015. Special Edition‘Tabula Rasa’ disertai CD original soundtrack dan buku resep masakan. Menyaksikan film ini merupakan cara yang yang tepat untuk merayakan kekayaan kuliner Indonesia. Selamat menonton!

 

Belum ada komentar

Tinggalkan Balasan